9 September 2026 - 20:06
Lebanon Selatan Hari Ini adalah Karbala Zaman Kita / Media Perlu Lebih Menyoroti Penderitaan Masyarakat Pendukung Perlawanan

Fatimah Hijazi, Pemimpin Redaksi jaringan internasional Al-Kawthar, mengatakan: “Sejak perang dimulai, berdasarkan data organisasi internasional, lebih dari 700 anak termasuk di antara para korban yang gugur. Jumlah korban tewas di Lebanon telah mencapai sekitar 9.000 orang dan puluhan ribu lainnya terluka; sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak.”

Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Meskipun telah berlalu dua tahun sejak perang besar-besaran Israel terhadap Lebanon, masyarakat pendukung Hizbullah disebut tetap bertahan menghadapi perang, pengungsian dan serangan berulang. Di tengah perang media dan militer serta berbagai tantangan besar dengan pemerintah Lebanon saat ini, mereka memandang diri berada dalam satu jalan dengan rakyat Iran dan Republik Islam, serta menjadikan kepatuhan terhadap konsep Wilayat al-Faqih dan mengikuti garis para pemimpin Revolusi Islam sebagai orientasi mereka.

Dalam konteks tersebut, wartawan ABNA berbincang dengan Fatimah Hijazi, Pemimpin Redaksi jaringan internasional Al-Kawthar dan aktivis media asal Bint Jbeil, Lebanon, mengenai kondisi terkini masyarakat Lebanon selatan serta peran media dalam memperkenalkan situasi Lebanon saat ini.

ABNA: Dalam dua tahun terakhir, khususnya setelah gugurnya Sayyid Hassan Nasrallah dan terbentuknya pemerintahan baru di Lebanon, kondisi masyarakat—terutama di selatan—semakin sulit akibat serangan berulang Israel. Bagaimana Anda menilai kondisi Hizbullah, masyarakat pendukung perlawanan dan semangat rakyat saat ini?

Pertama-tama, saya ingin mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda terhadap Lebanon selatan dan apa yang sedang terjadi di sana saat ini.

Jika saya harus merangkum kondisi Hizbullah dan masyarakat perlawanan Lebanon hari ini dalam satu kalimat, saya akan mengatakan bahwa kami sedang hidup dalam kondisi seperti Karbala. Lebanon selatan hari ini bagi kami adalah Karbala zaman ini.

Kami tidak hanya berhadapan dengan musuh Israel. Kami juga meyakini bahwa pemerintah Lebanon saat ini bergerak sejalan dengan kebijakan Amerika Serikat dan Israel, dan hal itu semakin menambah tekanan terhadap kami.

Tantangannya sangat besar, tetapi keyakinan kami terhadap janji Allah tidak berubah; janji bahwa Allah akan menolong mereka yang tetap teguh di jalan-Nya.

Bagi kami, para pemimpin perlawanan adalah simbol Abbas; para pemuda kami mengingatkan kami pada Ali Akbar; para remaja mengingatkan kami pada Qasim; anak-anak kami mengingatkan kami pada Ali Asghar. Para perempuan kami adalah perempuan Zainabi—sabar, teguh dan siap berkorban. Putri-putri kami mengingatkan kami pada Sukainah dan anak-anak kami pada Ruqayyah.

Memang, banyak rumah kami telah dihancurkan. Banyak pemuda kami terluka dalam ledakan pager dan ribuan pemuda perlawanan telah gugur. Ada keluarga yang kehilangan seluruh anggotanya. Namun kami adalah anak-anak dari satu mazhab dan sekolah pemikiran: madrasah Husaini, Karbala dan Zainabi, yang mengajarkan kepada kami:

“Hayhat minna al-dhillah” — Jauh dari kami kehinaan.

ABNA: Bersamaan dengan perang militer terhadap Lebanon, juga berlangsung perang media terhadap perlawanan, khususnya Hizbullah. Sebagai aktivis media, bagaimana penilaian Anda terhadap media?

Izinkan saya, sebagai seorang perempuan Lebanon, menyampaikan sedikit keluhan secara bersahabat kepada media-media Iran berbahasa Persia, yang sangat kami hormati dan hargai.

Keluhan kami adalah bahwa selama dua tahun terakhir, isu Lebanon selatan dan penderitaan masyarakatnya belum mendapat perhatian sebagaimana mestinya.

Jumlah kaum Syiah Lebanon hanya sekitar 1,5 juta orang, tetapi hari ini mereka menghadapi penderitaan yang sangat berat: pembunuhan, pengungsian, penghancuran rumah, serta serangan besar dari dalam maupun luar.

Hari ini kami melihat Karbala dengan mata kepala sendiri di Lebanon selatan.

Hampir di setiap rumah terdapat seseorang yang gugur, terluka, ditawan, atau keluarga yang mengungsi. Hampir tidak ada satu keluarga pun yang sepenuhnya terbebas dari penderitaan ini.

Baru-baru ini terjadi pembantaian di Lebanon selatan yang korbannya termasuk perempuan dan anak-anak, bahkan seorang bayi berusia dua bulan.

Bagi saya sangat mengejutkan melihat berita ini tidak masuk dalam tajuk utama media-media berbahasa Persia di Iran. Minggu ini juga empat gadis muda gugur.

Namun demikian, kami merasa media-media berbahasa Persia di Iran belum memberikan perhatian terhadap Lebanon selatan sebagaimana perhatian mereka terhadap Gaza.

Sejak perang dimulai, berdasarkan data organisasi internasional, lebih dari 700 anak termasuk di antara para korban gugur. Jumlah korban tewas di Lebanon telah mencapai sekitar 9.000 orang, sementara puluhan ribu lainnya terluka. Sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak.

Hari-Hari Sulit Kehidupan Syiah di Lebanon

Masyarakat desa-desa perbatasan dan ratusan ribu orang yang rumahnya hancur kini tinggal di sekolah-sekolah dan wilayah di luar kampung halaman mereka. Banyak dari mereka tidak memiliki rumah untuk kembali dan tidak mempunyai sumber penghasilan.

Kondisi mereka semakin sulit karena sebagian besar daerah tempat mereka mengungsi merupakan kawasan yang penduduknya tidak memiliki pandangan yang sama dengan gerakan perlawanan.

Saya sendiri menghadiri berbagai pertemuan malam dan kegiatan di lapangan-lapangan Teheran.

Bagi saya aneh bahwa banyak masyarakat Iran yang saya cintai mengira di Lebanon selatan telah berlaku semacam gencatan senjata dan sama sekali tidak mengetahui apa yang sedang terjadi saat ini serta kondisi sulit yang sedang dihadapi kaum Syiah Lebanon. Kami merasa sedang menghadapi ancaman nyata terhadap eksistensi kami sendiri.

Bahkan salah seorang maddah Iran, di Lapangan Enghelab, yang memiliki kedudukan simbolis dan historis, pernah melontarkan slogan yang bagi kami terasa sangat berat dan menyakitkan. Memang, keesokan harinya ia meminta maaf dan kami melihat serta menerima permintaan maaf itu, tetapi luka yang ditimbulkan belum sepenuhnya sembuh.

Keluhan utama kami kepada media-media yang kami cintai adalah bahwa kami berharap mereka lebih banyak berbicara tentang penderitaan masyarakat Lebanon selatan dan ketertindasan masyarakat pendukung perlawanan.

Terlebih lagi, Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam, dalam pernyataan pertamanya setelah gugurnya Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, menyampaikan terima kasih kepada perlawanan Lebanon yang, menurut pernyataan tersebut, tetap mendukung Republik Islam Iran dalam Perang Ramadan meski menghadapi segala kesulitan.

“Kaum Syiah Perlawanan Lebanon Menganggap Iran sebagai Ibu dan Mahkota di Atas Kepala Mereka”

Kami orang Lebanon memiliki sebuah ungkapan: “Besarnya keluhan sebanding dengan besarnya cinta.” Dan cinta kami kepada Iran sangat dalam.

Kami, kaum Syiah Lebanon, khususnya masyarakat pendukung perlawanan, menganggap Iran sebagai ibu dan mahkota di atas kepala kami. Kami mencintai Iran dan rakyat Iran. Jika perlu, kami siap mengorbankan nyawa kami untuk Iran dan rakyatnya.

ABNA: Anda berasal dari wilayah Bint Jbeil. Mohon jelaskan sejarah wilayah tersebut dan kondisi terkininya.

Bint Jbeil adalah sebuah kota di Lebanon dan pusat Distrik Bint Jbeil di Lebanon selatan, Provinsi Nabatieh. Sebelum menjelaskan kondisi kota saat ini, izinkan saya menyampaikan sedikit latar belakang sejarah. Setelah berdirinya Israel diumumkan pada 1948, Bint Jbeil menjadi tempat lalu-lalang dan berkumpulnya banyak orang Arab yang memperjuangkan cita-cita pembebasan Palestina.

Sejak saat itu, kota tersebut menjadi salah satu titik pertama yang bersentuhan langsung dengan pendudukan Israel.

Pada periode yang sama, menurut pandangan yang berkembang di masyarakat, Amerika melalui medianya di Lebanon mengumumkan bahwa pintu negaranya terbuka bagi penduduk Bint Jbeil dan mempermudah proses migrasi mereka ke AS.

Banyak orang saat itu melihat kebijakan ini sebagai langkah yang diperhitungkan untuk mengurangi tekanan populasi di dekat perbatasan Israel.

Karena begitu banyak warga Bint Jbeil bermigrasi ke Negara Bagian Michigan, AS, wilayah itu kemudian secara bercanda atau sebagai simbol identitas sosial disebut sebagai “Republik Bint Jbeil.”

Pada tahun 2000, setelah pembebasan Lebanon selatan, banyak warga Bint Jbeil kembali ke kota mereka. Namun pada perang 33 hari atau Perang Juli, setelah pertempuran sengit, sebagian besar yang telah mereka bangun kembali hancur.

Setelah perang, Bint Jbeil kembali dibangun. Tetapi sebagian penduduk kemudian kembali lagi ke Amerika. Karena itulah hingga hari ini sebagian besar warga Bint Jbeil tinggal di Amerika Serikat, khususnya di Detroit dan Michigan. Namun migrasi itu tidak berarti mereka melupakan tanah air.

Banyak dari mereka, meskipun tinggal di Amerika, tetap memiliki keterikatan mendalam dengan Bint Jbeil dan membangun rumah-rumah besar serta indah di kota tersebut. Sayangnya, banyak dari rumah-rumah itu kini dihancurkan dalam serangan Israel terbaru, termasuk rumah-rumah milik warga yang memiliki kewarganegaraan Amerika.

Sebagian dari mereka melakukan protes dan tindak lanjut di Amerika, tetapi sebagaimana diketahui, Israel memiliki dukungan politik dan diplomatik yang luas di AS. Namun Bint Jbeil bukan sekadar sebuah kota. Bint Jbeil adalah simbol yang jauh lebih besar daripada ukuran geografisnya.

Kota ini berada di jantung wilayah historis Jabal Amil dan selama beberapa dekade telah menjadi simbol penting dalam ingatan gerakan perlawanan Lebanon. Bint Jbeil juga mempunyai tempat khusus dalam memori militer dan media Israel.

Dalam Perang Juli, salah satu pertempuran paling sengit antara pasukan perlawanan Islam dan tentara Israel terjadi di wilayah ini. Perlawanan Lebanon menimbulkan kerugian besar terhadap pasukan Israel dalam pertempuran tersebut. Karena itu Bint Jbeil menjadi simbol khusus bagi Israel.

Bahkan media-media berbahasa Ibrani pada awal operasi militer terhadap kota tersebut menekankan bahwa Bint Jbeil sangat penting karena merupakan salah satu kota Syiah terbesar di dekat perbatasan Palestina yang diduduki dan berjarak kurang dari empat kilometer dari perbatasan.

“Saya Menyaksikan Pidato Kemenangan Sayyid Perlawanan dan Kalimat Terkenal: Israel Lebih Rapuh daripada Rumah Laba-Laba”

Setelah Perang Juli, Sayyid Hassan Nasrallah menyampaikan “pidato kemenangan” yang terkenal di Bint Jbeil dan mengucapkan kalimat historis bahwa Israel dan Netanyahu “lebih rapuh daripada rumah laba-laba.” Saya merasa terhormat karena hadir langsung dalam acara besar dan tak terlupakan itu di Stadion Bint Jbeil.

Sejak hari itu, Bint Jbeil semakin berubah menjadi sebuah simbol—luka terbuka dalam ingatan militer Israel dan target strategis dalam setiap konfrontasi.

Karena itulah, menurut kami, dalam perang terakhir Israel tidak memperlakukan Bint Jbeil semata-mata sebagai sasaran militer, tetapi sebagai sebuah kota yang memiliki nilai simbolis bagi perlawanan dan dianggap perlu dihancurkan simbolismenya. Kota itu dikepung dan mengalami pengeboman yang sangat berat dan luas, mulai dari serangan udara, artileri hingga penggunaan fosfor putih.

Dalam operasi tersebut, pasukan Israel memasuki kawasan dengan beberapa brigade dan ribuan tentara yang dilengkapi berbagai jenis senjata. Namun para pemuda perlawanan bertahan selama berbulan-bulan.

Dalam beberapa kasus, pertempuran berlangsung dalam jarak sangat dekat, bahkan di dalam rumah dan lingkungan permukiman. Kerugian besar juga dialami pasukan Israel, dan sebagian di antaranya dilaporkan serta dikonfirmasi media Israel. Semua itu terjadi ketika pasukan perlawanan berada dalam pengepungan dan pesawat-pesawat Israel terus berada di langit kawasan tersebut.

Bagian Bersejarah dan Infrastruktur Bint Jbeil Hancur Total

Bagi kami, hal itu menunjukkan tingkat keteguhan perlawanan dalam menghadapi kekuatan militer yang jauh lebih besar. Namun mengenai kondisi keamanan Bint Jbeil selama dua tahun terakhir dan keadaan masyarakatnya, wilayah tersebut mengalami eskalasi militer yang sangat berat, khususnya dalam perang Lebanon terbaru yang mencapai puncaknya pada 2024 dan 2026.

Bint Jbeil praktis menjadi salah satu medan utama pertempuran. Militer Israel berusaha mengepung kota dan memisahkannya dari wilayah sekitarnya. Melalui serangan udara besar-besaran, artileri dan pengeboman berat, infrastruktur serta bangunan tempat tinggal dihancurkan.

Masjid-masjid dan bangunan bersejarah juga mengalami kerusakan. Berdasarkan gambar-gambar yang dipublikasikan dari kawasan tersebut, bagian historis pusat kota hampir sepenuhnya hancur. Menurut kami, tujuan kebijakan ini bukan semata-mata menghancurkan bangunan, tetapi juga berusaha mematahkan masyarakat pendukung perlawanan.

Namun meskipun skala kehancurannya sangat besar, tujuan tersebut dinilai belum tercapai. Saat ini Bint Jbeil hampir sepenuhnya kosong dari penduduk. Sekitar 90 persen rumah dan infrastruktur kota mengalami kerusakan atau kehancuran. Bahkan stadion kota dan pasar bersejarah juga menjadi sasaran. Bagi masyarakat Bint Jbeil, ini bukan sekadar penghancuran bangunan; sebagian sejarah dan identitas sebuah kota sedang menghilang.

ABNA: Sebagai perempuan Lebanon yang selama bertahun-tahun menyaksikan perlawanan rakyat Lebanon terhadap Israel, bagaimana Anda melihat masa depan perlawanan di Lebanon?

Hari ini kami berdiri di bawah kepemimpinan Sekretaris Jenderal Hizbullah, Syekh Naim Qassem, semoga Allah memanjangkan usianya, dan di bawah panji Wali Faqih, Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei.

Kami melanjutkan jalan Imam Khomeini dan Ayatullah Khamenei dan akan terus berada di jalan ini hingga kemenangan atau syahadah. Sebab kami meyakini bahwa syahadah dalam mazhab kami merupakan puncak kemuliaan ilahi.

Sebagaimana dikatakan Sayyid Hassan Nasrallah: “Sanantashir” — Kita pasti akan menang.

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha